Kerja Keras, Cerdas, Cermat dan Ikhlas
RASULULLAH Saw mengajarkan kepada umatnya agar dapat mandiri. Qaddirun alal kasbi yang berarti memenuhi kebutuhan finansialnya sendiri. Tidak berpangku tangan dan tergantung pada orang lain. Dengan demikian ia akan menjadi pribadi yang berwibawa dan terhormat. Tidak diremehkan orang lain.
Dalam hidup ini manusia memiliki pelbagai kebutuhan baik primer, sekunder ataupun tersier. Oleh karena itu manusia perlu bekerja agar mampu memenuhi kebutuhannya tersebut dengan memperhatikan 4 karakter. Kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas dan kerja ikhlas. Bekerja dengan empat karakter ini insya Allah akan meminimalkan kegagalan, pemborosan dan kecelakaan kerja yang mestinya tidak perlu terjadi.
Seorang menejer memberikan tugas kepada asistennya untuk mengundang relasi dalam jamuan makan siang. Menejer perusahaan nasional ini memiliki banyak relasi yang mirip nama dan alamatnya. Marpaung Siregar di jalan Merapi. Marpaung Sinaga di jalan Merpati. Marpaung Siregar di jalan Merpati. Menejer bermaksud mengundang Marpaung Siregar di jalan Merapi dan minta asisten agar memberi tanda atau mencatat nama yang dimaksud agar tidak keliru. Asisten tidak mau melaksanakan arahan menejernya dan pada hari “H” ternyata yang datang bukan nama yang dimaksud. Sehingga acara yang sudah dirancang sedemikian rupa menjadi kacau.
Seorang asisten mendapat tugas menjemput seseorang. Ketika sampai di tempat, ternyata seseorang yang hendak dijemput tidak ada. Ia mendapat informasi kalau seseorang yang akan dijemput, sudah berangkat. Ia langsung percaya kepada info tersebut. Tidak mengkonfirmasi kepada yang bersangkutan. Padahal ia membawa HP dan mempunyai nomornya. Ia langsung pulang. Setelah sampai di rumah, ternyata belum sampai di tempat. Akhirnya ia kembali ke tempat penjemputan. Ternyata orang yang dijemput tadi baru ke belakang.
Seorang pekerja bangunan yang sedang bekerja di atas, tidak mau memakai sabuk pengaman. Sesuai standar, ia harus memakai sabuk pengaman. Karenanya kecerobohannya, ia jatuh dan berakibat fatal. Seorang pedagang BBM (pertalite) kulakan dengan jerigen. Karena tutupnya hilang, maka jerigen tersebut ditutup dengan plastik dan ditali dengan rafia. Karena jalannya berbatu, maka plastiknya lepas, isinya tumpah mengenai mesin motor. Tidak dapat dihindari, motornya terbakar. Perlu dicatat di sini, rafia tidak aman untuk tali pada plastik jerigen tersebut. Lebih aman ditali dengan karet dalam jumlah banyak.
Beberapa kasus ini menggambarkan bekerja yang tidak cerdas, tidak tuntas. Demikian juga tukang becak yang suka tidur ngleker di atas becaknya. Setiap ada calon penumpang yang akan memakai jasanya, selalu beralih ke tukang becak yang jaga (melek, tidak tidur). Demikian juga para pekerja dapur sering tidak mau rekoso. Pisau diletakkan di sembarang tempat, tidak mau menempatkan pada tempatnya dengan alasan ribet. Akibatnya, pada saat akan menggunakan, dia pusing tujuh keliling. Di lupa di mana meletakkan. Hampir setengah jam habis waktunya untuk mencari pisau dan tidak diketemukan. Padahal kalau mau, tidak sampai satu menit sudah cukup untuk meletakkan pisau tersebut pada tempatnya dan dengan mudah dapat diambil hanya dalam hitungan detik saat diperlukan.
Islam lebih menghargai orang yang bekerja keras untuk menghidupi dirinya daripada menjadi pengemis. Nafkah yang diperoleh dari hasil usaha sendiri merupakan nafkah terbaik dan penuh berkah. Bekerja merupakan salah satu ibadah yang telah ditetapkan oleh Allah swt. Disamping untuk memperoleh nafkah yang halal dan baik, bekerja juga merupakan perwujudan hubungan taawuniyyah (tolong menolong) diantara sesama Muslim. Sebab, ketika seseorang bekerja, tentunya ia akan bersinggungan dengan kepentingan orang lain.
Tatkala seorang penjahit menjahit baju untuk pelanggannya, ia telah membantu orang lain yang sedang membutuhkan baju, atau pakaian. Demikian juga tukang jahit; ia membutuhkan orang yang hendak menjahitkan kain kepadanya, agar ia memperoleh nafkah yang halal dan baik. Yang penting jangan sampai menjadi penjahit “Kondang Semoyo” . Berjanji hari Sabtu pagi. Ketika pelanggan datang Sabtu sore untuk mengambil, ternyata pakaian belum jadi. Berjanji lagi Senin pagi, saat diambil Senin sore belum jadi. Ia memang penjahit Kondang Semoyo.
Orang yang bekerja, apapun pekerjaannya, memiliki kemuliaan dan keutamaan. Bekerja adalah kemuliaan.
Dari Muhammad bin Ashim, dia berkata, “Telah sampai berita padaku bahwa Umar bin Khatab ra. jika melihat pemuda yang membuatnya kagum, maka ia akan menanyakan perihal anak itu, apakah anak itu memiliki pekerjaan? jika dikatakan, Tidak, maka ia akan berkata, Telah jatuh satu derajat anak muda itu di mataku. Memiliki pekerjaan akan menjaga izzah sebagai seorang muslim. Seorang muslim yang tidak bekerja tentu derajatnya akan jatuh, meskipun ia seorang yang soleh dan taat beribadah. Tampilannya tidak meyakinkan. Pakaian tikel, tidak disentuh penatu. Sandal jepit sudah usang. Gigi menguning dan banyak sisa sisa makanan bersarang. Semua ini terjadi karena ketiadaan dana untuk tampil keren dan necis. Maka terang benderanglah bahwa bekerja merupakan refleksi kehormatan dan kemulyaan seseorang.
Jika seseorang memiliki profesi halal dan baik; misalnya tukang becak, tukang ojek, guru, petani, dan buruh pabrik, dan lain sebagainya, tentunya ia akan terpandang di sisi Allah dan masyarakat. Sebaliknya, alangkah hinanya di sisi Allah swt, jika seseorang memiliki profesi haram, misalnya pelacur, dukun, eksekutor di bank ribawi, serta pekerjaan-pekerjaan haram lainnya. Harta yang didapatkannya tidak berkah, dan kelak ia akan mendapatkan siksa di hari akhir.
Di dalam sebuah riwayat dituturkan, bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya, dunia itu diperuntukkan bagi empat orang; pertama, seorang hamba yang diberi harta dan ilmu oleh Allah swt; dan dengannya ia bertaqwa kepada Allah swt dan menghubungkan silaturrahim, dan ia mengetahui bahwa ada hak Allah di dalam hartanya. Ini adalah seutama-utama kedudukan. Kedua, seorang hamba yang diberi ilmu oleh Allah, namun tidak diberi harta; kemudian ia berniat seraya berkata, :Seandainya aku punya harta, sungguh aku akan beramal sebagaimana si fulan (yang kaya). Dengan niatnya itu, maka pahala keduanya adalah sama. Ketiga, seorang hamba yang tidak diberi ilmu, namun hanya diberi harta oleh Allah. Lalu, ia membelajakan hartanya tanpa dengan pengetahuan, dan tidak dijadikan sebagai wasilah untuk bertaqwa kepada Allah swt dan menyambung silaturrahim, dan ia juga tidak tahu bahwa di dalamnya ada hak Allah swt, maka ini adalah serendah-rendahnya kedudukan. Keempat, seorang hamba yang tidak diberi harta dan ilmu oleh Allah swt, dan ia berkata, “Seandainya saya memiliki harta, maka saya akan beramal sebagaimana si fulan (yang ketiga) tersebut, maka dosa keduanya adalah sama.”[HR. Turmudziy]
Bekerja adalah keseimbangan. “Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian. Dan Kami jadikan siang untuk penghidupan.” (QS An-Naba: 10-11)
Allah mengajarkan keseimbangan dalam rutinitas kehidupan. Diciptakannya siang dan malam, masing-masing mempunyai peranan. Allah menciptakan siang untuk bekerja mencari rezeki dan pada malam harinya digunakan untuk beristirahat dan mengumpulkan tenaga agar bisa kerja lagi pada esok harinya. Jangan hendaknya malam dan siang untuk tidur. Jangan pula siang dam malam untuk bekerja. Jasmani perlu mendapatkan hak untuk istirahat.
Bekerja setara dengan jihad.“Barang siapa bersusah-payah mencari nafkah untuk keluarganya maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah” (HR Ahmad)
Dari Kaab bin Ujrah RA, ia berkata, “Ada seorang laki-laki lewat di hadapan Nabi SAW, maka para shahabat Rasulullah SAW melihat kuat dan sigapnya orang tersebut. Lalu para shahabat bertanya, “Ya Rasulullah, alangkah baiknya seandainya orang ini ikut (berjuang) fi sabilillah” . Lalu Rasulullah SAW menjawab, “Jika ia keluar untuk bekerja mencarikan kebutuhan anaknya yang masih kecil, maka ia fi sabilillah. Jika ia keluar bekerja untuk mencarikan kebutuhan kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia maka ia fi sabilillah. Jika ia keluar untuk bekerja mencari kebutuhannya sendiri agar terjaga kehormatannya, maka ia fi sabilillah. Tetapi jika ia keluar untuk bekerja karena riya (pamer) dan kesombongan maka ia di jalan syaithan”. [HR. Thabrani dan para sanadnya orang-orang shahih].
Seorang suami berkewajiban mencari nafkah untuk keluarganya. Suami berkewajiban memberikan Sandang, Papan dan Pangan (SPP) kepada keluarganya. Tidak mungkin lagi baginya bergantung pada orang tuanya. Sebagi imbalan jika tanggung jawab itu berhasil dipenuhi, maka Allah akan menyamakannya dengan seorang mujahid di jalan Allah. Allah mengampuni dosa-dosanya ketikka sore hari dalam keadaan lelah setelah seharian bekerja.
Dari Aisyah RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa memasuki sore hari dalam keadaan lelah karena bekerja dengan tangannya sendiri, maka ia di sore itu mendapatkan ampunan (dari Allah). [HR. Thabrani di dalam Al-Ausath dan Ashbihaniy dari haditsnya Ibnu Abbas]. (*)
Oleh : AA Gim (Guru SMA MTA Surakarta)
Jateng Pos, Rabu 29 November 2017
https://mta.or.id/kerja-keras-cerdas-cermat-dan-ikhlas/
